Showing posts with label Spirit. Show all posts
Showing posts with label Spirit. Show all posts

Saturday, February 7, 2009

Kedamaian Hati adalah Kedamaian Sejati

Seorang Raja mengadakan sayembara dan akan memberi hadiah yang melimpah kepada siapa saja yang bisa melukis tentang kedamaian. Ada banyak seniman dan pelukis berusaha keras untuk memenangkan lomba
tersebut. Sang Raja berkeliling melihat-lihat hasil karya mereka. Hanya ada dua buah lukisan yang benar-benar paling disukainya. Tapi, sang Raja harus memilih satu diantara keduanya.


Lukisan pertama menggambarkan sebuah telaga yang tenang. Permukaan telaga yang itu bagaikan cermin sempurna yang mematulkan kedamaian gunung-gunung yang tenang menjulang mengitarinya.
Di atasnya terpampang langit biru dengan awan putih berarak-arak. Semua yang memandang lukisan ini akan berpendapat, inilah lukisan terbaik mengenai kedamaian.

Lukisan kedua menggambarkan pegunungan juga. Namun tampak kasar dan gundul. Di atasnya terlukis langit yang gelap dan merah menandakan turunnya hujan badai, sedangkan tampak kilat menyambar-nyambar liar. Disisi gunung ada air terjun deras yang berbuih-buih, sama sekali tidak menampakkan ketenangan dan kedamaian. Tapi, sang raja melihat sesuatu yang menarik, di balik air terjun itu tumbuh semak-semak kecil diatas sela-sela batu. Didalam semak-semak itu seekor induk burung pipit meletakkan sarangnya. Jadi, ditengah-tengah riuh rendahnya air terjun, seekor induk Pipit sedang mengerami telurnya dengan damai. Benar-benar damai.

Lukisan manakah yang memenangkan lomba?
Sang Raja memilih lukisan nomor dua.
Tahukah Anda mengapa? karena jawab sang Raja, “Kedamaian bukan berarti Anda harus berada di tempat yang tanpa keributan, kesulitan atau pekerjaan yang keras dan sibuk. Kedamaian adalah hati yang tenang dan damai, meski Anda berada di tengah-tengah keributan luar biasa.”

“Kedamaian hati adalah kedamaian sejati.”
Read More......

Apakah Anda Berpotensi menjadi Pemimpin?

Mari sejenak kita merenung sambil mencoba menjawab lima buah pertanyaan yang diajukan oleh Donald A. Laird, seorang psikolog, berikut ini;


1. Apakah Anda mampu menegur tanpa menimbulkan kemarahan?
2. Apakah Anda mampu menolak tanpa mengecilkan arti?
3. Apakah Anda mampu tertawa bersama bila kelucuan itu menyangkut
diri Anda sendiri?
4. Apakah Anda mampu memelihara semangat jika menghadapi suatu
kegagalan?
5. Apakah Anda mampu tenang jika harus menghadapi situasi darurat?

Pertanyaan di atas merupakan cara pengukuran yang sederhana untuk menilai apakah seseorang berpotensi untuk menjadi pemimpin. Apabila jawaban anda adalah “mampu” untuk semua pertanyaan di atas, maka anda mempunyai potensi untuk menjadi seorang pemimpin. Selamat!
Read More......

Perang Semakin Canggih Aja Ya....!

Artikel ini ditulis bukan karena saya mendadak ingin menjadi analis perang, namun semata-mata karena prihatin dengan perang antara Israel dan Palestina di Jalur Gaza. Walaupun terlihat hanya dua negara yang sedang berperang, namun saya yakin ada beberapa negara ikut berperang di belakang dua negara ini. Ini menandakan konsep perang sudah semakin canggih, tidak perlu memunculkan muka maka suatu negara dapat memicu perang.


Dimulai dari perang yang dimulai oleh Amerika Serikat di Afganistan dan Irak, hingga perang Israel dan Palestina kita melihat strategi maupun peralatan perang semakin canggih aja. Kalau dahulu rakyat Indonesia menggunakan bambu runcing untuk melawan penjajah yang bersenjatakan senapan dan meriam, maka saat ini peralatan sudah semakin canggih. Senapan yang digunakan semakin otomatis dan bisa menembakkan ratusan peluru per detik, meriam pun bisa menjangkau lokasi yang sangat jauh. Ditambah dengan roket-roket yang diluncurkan dari kapal induk maupun pesawat tempur yang bisa menjangkau sasaran yang telah ditandai.

Jika dahulu senjata selalu identik dengan bubuk mesiu, maka sekarang roket atau rudal di tambah dengan unsur kimia yang berbahaya dapat digunakan untuk membunuh seluruh orang di area tersebut tanpa sisa. Tujuan mereka adalah bagaimana cara menghancurkan musuh dengan efektif dan efisien. Maka dari itu mereka mengembangkan senjata yang tanpa disadari merupakan senjata pemusnah massal.

Dari strategi perang pun semakin canggih walaupun masih menggunakan dasar konsep-konsep strategi perang lama. Jika dulu kita berpropaganda menggunakan radio dan surat kabar, maka sepertinya media itu semakin ketinggalan jaman. Ada media yang lebih canggih untuk menampilkan multimedia berupa gambar dan suara dengan cepat seperti televisi dan internet.

Maka dari itu tak heran Israel memposting beberapa video ke situs video terkenal seperti YouTube. Walaupun akhirnya video tersebut dihapus oleh YouTube, namun Israel tidak kehilangan akal dengan membuat situs yang dikelola sendiri. Dengan cara ini maka Israel bisa mengirimkan gambar-gambar dan informasi terbaru untuk mendapatkan dukungan dari negara lain.

Palestina pun tidak mau kalah, mereka mengerti peran media maka dari itu sniper mereka dilengkapi dengan video yang menayangkan keberhasilan mereka melumpuhkan tentara Israel. Dengan cara ini mereka bisa menyiarkan semangat maupun perjuangan mereka ke luar negeri. Walaupun agak terlambat sepertinya Liga Arab sudah memberikan respon terhadap Konflik Israel dan Palestina.

Hal-hal di atas memunculkan pertanyaan apakah semakin tinggi teknologi menunjukkan semakin tinggi peradaban manusia? Bukankah teknologi diciptakan untuk membantu kehidupan manusia, apakah teknologi juga layak digunakan untuk membunuh sesama manusia? Entah sampai mana manusia akan menguji batas kemampuan mereka di dunia ini. Hingga saatnya itu manusia tidak akan menemukan apa pun, bukankah semua manusia adalah sama? Hanya perbedaan kecil yang tidak berarti seperti ada yang hidungnya lebih mancung, ada yang matanya lebih sipit atau kulitnya lebih legam.

Tidak bisa terbayangkan bagaimana rakyat Palestina bisa tidur nyenyak setiap harinya jika selalu dibombardir seperti itu. Terlebih anak-anak yang tidak bisa menikmati masa kanak-kanak yang bahagia yang bisa mendukung perkembangan mentalnya. Sepertinya perang selalu harus mengorbankan sisi kemanusiaan.

Perang sepertinya merupakan tontonan menarik bagi sebagian orang. Seperti ditayangkan di televisi, beberapa orang menonton pertempuran di Jalur Gaza seperti sedang berpiknik saja lengkap dengan teropong jarak jauh dan komentar seperti menonton pertandingan sepakbola. Apakah mereka tidak sadar sedang bersenang-senang di atas penderitaan orang lain?

Semoga artikel ini menggugah orang-orang yang bersimpati dengan perdamaian untuk selalu mengingat nilai hidup manusia yang sangat berharga ini. Hidup yang lebih berharga diisi dengan perdamaian dan kasih sayang daripada saling mencaci maki maupun membunuh antar sesama manusia.
Read More......

Mencapai Potensi Hidup Yang Maksimal

Setiap orang mendambakan masa depan yang lebih baik ; kesuksesan dalam karir,
rumah tangga dan hubungan sosial, namun seringkali kita terbentur oleh berbagai
kendala. Dan kendala terbesar justru ada pada diri kita sendiri.
Melalui karyanya, Joel Osteen menantang kita untuk keluar dari pola pikir yang
sempit dan mulai berpikir dengan paradigma yang baru.

Ada 7 langkah agar kita mencapai potensi hidup yang maksimal :


* Langkah pertama adalah perluas wawasan. Anda harus memandang kehidupan ini
dengan mata iman, pandanglah dirimu sedang melesat ke level yang lebih tinggi.
Anda harus memiliki gambaran mental yang jelas tentang apa yang akan Anda raih.
Gambaran ini harus menjadi bagian dari dirimu, didalam benakmu, dalam percakapanmu,
meresap ke pikiran alam bawah sadarmu, dalam perbuatanmu dan dalam setiap
aspek kehidupanmu.

* Langkah ke dua adalah mengembangkan gambar diri yang sehat. Itu artinya Anda harus
melandasi gambar dirimu diatas apa yang Tuhan katakan tentang Anda.
Keberhasilanmu meraih tujuan sangat tergantung pada bagaimana Anda memandang
dirimu sendiri dan apa yang Anda rasakan tentang dirimu. Sebab hal itu akan menentukan
tingkat kepercayaan diri Anda dalam bertindak. Fakta menyatakan bahwa Anda tidak akan
pernah melesat lebih tinggi dari apa yang Anda bayangkan mengenai dirimu sendiri

* Langkah ke tiga adalah temukan kekuatan dibalik pikiran dan perkataanmu.
Target utama serangan musuh adalah pikiranmu. Ia tahu sekiranya ia
berhasil mengendalikan dan memanipulasi apa yang Anda pikirkan, maka ia
akan berhasil mengendalikan dan memanipulasi seluruh kehidupanmu.
Pikiran menentukan prilaku, sikap dan gambar diri. Pikiran menentukan tujuan.
Alkitab memperingatkan kita untuk senantiasa menjaga pikiran.

* Langkah ke empat adalah lepaskan masa lalu, biarkanlah ia pergi...
Anda mungkin saja telah kehilangan segala yang tidak seorangpun patut mengalaminya
dalam hidup ini. Jika Anda ingin hidup berkemenangan , Anda tidak boleh memakai
trauma masa lalu sebagai dalih untuk membuat pilihan-pilihan yang buruk saat ini.
Anda harus berani tidak menjadikan masa lalu sebagai alasan atas sikap burukmu
selama ini, atau membenarkan tindakanmu untuk tidak mengampuni seseorang.

* Langkah ke lima adalah temukan kekuatan di dalam keadaan yang paling buruk sekalipun
Kita harus bersikap :" Saya boleh saja terjatuh beberapa kali dalam hidup ini, tetapi
tetapi saya tidak akan terus tinggal dibawah sana." Kita semua menghadapi
tantangan dalam hidup ini . KIta semua pasti mengalami hal-hal yang datang
menyerang kita. Kita boleh saja dijatuhkan dari luar, tetapi kunci untuk hidup
berkemenangan adalah belajar bagaimana untuk bangkit lagi dari dalam.


* Langkah ke enam adalah memberi dengan sukacita. Salah satu tantangan terbesar
yang kita hadapi adalah godaan untuk hidup mementingkan diri sendiri.
Sebab kita tahu bahwa Tuhan memang menginginkan yang terbaik buat kita,
Ia ingin kita makmur, menikmati kemurahanNya dan banyak lagi yang Ia sediakan buat kita,
namun kadang kita lupa dan terjebak dalam prilaku mementingkan diri sendiri.
Sesungguhnya kita akan mengalami lebih banyak sukacita dari yang pernah dibayangkan
apabila kita mau berbagi hidup dengan orang lain.

* Langkah ke tujuh adalah memilih untuk berbahagia hari ini. Anda tidak harus menunggu
sampai semua persoalanmu terselesaikan. Anda tidak harus menunda kebahagiaan
sampai Anda mencapai semua sasaranmu. Tuhan ingin Anda berbahagia apapun kondisimu,
sekarang juga !
Read More......

Saturday, January 17, 2009

Terjadi Pembantaian di Indonesia

Kawan memang orang kafir yahudi zionis memang musuh nyata bagi kita karena memang takdir mereka membuat kerusakan dimuka bumi. Tapi apakah semua orang taw ternyata Indonesia juga sedang ada pembantaian dan banyak yg MATI jg. Klo di Palestina orang-orangnya yg mati tapi di Indonesia AQIDAH nya yg MATI. Di Palestina mereka ditembak dg menggunakan peluru, bom, artileri, rudal tp di Indonesia orang-orangnya ditembak dg Nasionalisme, Tenggang-rasa, Solidaritas dll. Itu yang membuat negara kita hancur secara perlahan-lahan.
Coba renungkanlah hal ini....!
Read More......

Thursday, January 15, 2009

Ngapain sih mendukung Palestina?

rKalau ada ribut-ribut di negara- negara Arab, misalnya di
> Mesir, Palestina, atau Suriah, kita sering bertanya apa
> signifikansi dukungan terhadap Negara tersebut. Misalnya
> baru-baru ini ketika Palestina diserang. Ngapain sih
> mendukung Palestina?
>
> Pertanyaan tersebut diatas sering kita dengar, terutama
> karena kita bukan orang Palestina, bukan bangsa Arab, rakyat
> sendiri sedang susah, dan juga karena entah mendukung atau
> enggak, sepertinya tidak berpengaruh pada kegiatan kita
> sehari-hari. Padahal, untuk yang belum mengetahui.. kita
> sebagai orang Indonesia malah berhutang dukungan untuk
> Palestina.
>
> Sukarno-Hatta boleh saja memproklamasikan kemerdekaan RI de
> facto pada 17 Agustus 1945, tetapi perlu diingat bahwa untuk
> berdiri (de jure) sebagai negara yang berdaulat, Indonesia
> membutuhkan pengakuan dari bangsa-bangsa lain. Pada poin ini
> kita tertolong dengan adanya pengakuan dari tokoh tokoh
> Timur Tengah, sehingga Negara Indonesia bisa berdaulat.

>
> Gong dukungan untuk kemerdekaan Indonesia ini dimulai dari
> Palestina dan Mesir, seperti dikutip dari buku
> "Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri" yang
> ditulis oleh Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan
> Indonesia , M. Zein Hassan Lc. Buku ini diberi kata sambutan
> oleh Moh.
> Hatta (Proklamator & Wakil Presiden pertama RI), M.
> Natsir (mantan Perdana Menteri RI), Adam Malik (Menteri Luar
> Negeri RI ketika buku ini diterbitkan) , dan Jenderal
> (Besar) A.H. Nasution.
>
> M. Zein Hassan Lc. Lt. sebagai pelaku sejarah, menyatakan
> dalam bukunya pada hal. 40, menjelaskan tentang peranserta,
> opini dan dukungan nyata Palestina terhadap kemerdekaan
> Indonesia, di saat negara-negara lain belum berani untuk
> memutuskan sikap.
>
> Dukungan Palestina ini diwakili oleh Syekh Muhammad Amin
> Al-Husaini -mufti besar Palestina- secara terbuka mengenai
> kemerdekaan Indonesia:
>
> ".., pada 6 September 1944, Radio Berlin berbahasa
> Arab menyiarkan 'ucapan selamat' mufti Besar
> Palestina Amin Al-Husaini (beliau melarikan diri ke Jerman
> pada permulaan perang dunia ke dua) kepada Alam Islami,
> bertepatan 'pengakuan Jepang' atas kemerdekaan
> Indonesia. Berita yang
> disiarkan radio tersebut dua hari berturut-turut, kami
> sebar-luaskan, bahkan harian "Al-Ahram" yang
> terkenal telitinya juga menyiarkan." Syekh Muhammad
> Amin Al-Husaini dalam kapasitasnya sebagai mufti Palestina
> juga berkenan menyambut kedatangan delegasi "Panitia
> Pusat Kemerdekaan
> Indonesia" dan memberi dukungan penuh. Peristiwa
> bersejarah tersebut tidak banyak diketahui generasi
> sekarang, mungkin juga para pejabat dinegeri ini.
>
> Bahkan dukungan ini telah dimulai setahun sebelum
> Sukarno-Hatta benar-benar memproklamirkan kemerdekaan RI.
> Tersebutlah seorang Palestina yang sangat bersimpati
> terhadap perjuangan Indonesia, Muhammad Ali Taher. Beliau
> adalah seorang saudagar kaya Palestina yang spontan
> menyerahkan seluruh uangnya di Bank Arabia tanpa meminta
> tanda bukti dan berkata: "Terimalah semua kekayaan saya
> ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia .."
>
> Setelah seruan itu, maka negara daulat yang berani mengakui
> kedaulatan RI pertama kali oleh Negara Mesir 1949. Pengakuan
> resmi Mesir itu (yang disusul oleh negara-negara Tim-Teng
> lainnya) menjadi modal besar bagi RI untuk secara sah diakui
> sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh.
> Pengakuan itu membuat RI berdiri sejajar dengan Belanda
> (juga dengan negara-negara merdeka lainnya) dalam segala
> macam perundingan & pembahasan tentang Indonesia di
> lembaga internasional.
>
> Dukungan Mengalir Setelah Itu Setelah itu, sokongan dunia
> Arab terhadap kemerdekaan Indonesia menjadi sangat kuat.
> Para pembesar Mesir, Arab dan Islam membentuk 'Panitia
> Pembela Indonesia '. Para pemimpin negara dan
> perwakilannya di lembaga internasional PBB dan Liga Arab
> sangat
> gigih mendorong diangkatnya isu Indonesia dalam pembahasan
> di dalam sidang lembaga tersebut.
>
> Di jalan-jalan terjadi demonstrasi- demonstrasi dukungan
> kepada Indonesia oleh masyarakat Timur Tengah. Ketika
> terjadi serangan Inggris atas Surabaya 10 November 1945 yang
> menewaskan ribuan penduduk Surabaya, demonstrasi anti
> Belanda-Inggris merebak di Timur-Tengah khususnya
> Mesir. Sholat ghaib dilakukan oleh masyarakat di
> lapangan-lapangan dan masjid-masjid di Timur Tengah untuk
> para syuhada yang gugur dlm pertempuran yang sangat dahsyat
> itu.
>
> Yang mencolok dari gerakan massa internasional adalah
> ketika momentum Pasca Agresi Militer Belanda ke-1, 21 juli
> 1947, pada 9 Agustus. Saat kapal "Volendam" milik
> Belanda pengangkut serdadu dan senjata telah sampai di Port
> Said. Ribuan penduduk dan buruh pelabuhan Mesir berkumpul di
> pelabuhan itu. Mereka menggunakan puluhan motor-boat dengan
> bendera merah-putih – tanda solidaritas- berkeliaran di
> permukaan air guna mengejar dan menghalau blokade terhadap
> motor-motor- boat perusahaan asing yang ingin menyuplai air
> & makanan untuk kapal "Volendam" milik Belanda
> yang berupaya melewati Terusan Suez, hingga kembali ke
> pelabuhan. Kemudian motor boat besar pengangkut logistik
> untuk Volendam" bergerak dengan dijaga oleh 20 orang
> polisi bersenjata beserta Mr. Blackfield, Konsul Honorer
> Belanda asal Inggris, dan Direktur perusahaan pengurus kapal
> Belanda di pelabuhan. Namun hal itu tidak menyurutkan
> perlawanan para buruh Mesir.
>
> Wartawan 'Al-Balagh' pada 10/8/47 melaporkan:
>
> "Motor-motor boat yang penuh buruh Mesir itu mengejar
> motor-boat besar itu dan sebagian mereka dapat naik ke atas
> deknya. mereka menyerang kamar stirman, menarik keluar
> petugas-petugasnya, dan membelokkan motor-boat besar itu
> kejuruan lain."
>
> Melihat fenomena itu, majalah TIME (25/1/46) dengan nada
> minornya menakut-nakuti Barat dengan kebangkitan
> Nasionalisme- Islam di Asia dan Dunia Arab.
> "Kebangkitan Islam di negeri Muslim terbesar di dunia
> seperti di Indonesia akan menginspirasikan negeri-negeri
> Islam lainnya
> untuk membebaskan diri dari Eropa."
>
> Melihat peliknya usaha kita untuk merdeka, semoga bangsa
> Indonesia yang saat ini merasakan nikmatnya hidup berdaulat
> tidak melupakan peran bangsa bangsa Arab, khususnya
> Palestina dalam membantu perdjoeangan kita.
>
> Statement Tokoh dalam buku ini:
>
> Dr. Moh. Hatta
> "Kemenangan diplomasi Indonesia yang dimulai dari
> Kairo. Karena dengan
> pengakuan Mesir dan negara-negara Arab lainnya terhadap
> Indonesia
> sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh, segala
> jalan tertutup
> bagi Belanda untuk surut kembali atau memungkiri janji,
> sebagai selalu
> dilakukannya di masa-masa yang lampau."
>
> A.H. Nasution
> "Karena itu tertjatatlah, bahwa negara-2 Arab jang
> paling dahulu
> mengakui RI dan paling dahulu mengirim misi diplomatiknja
> ke Jogja dan
> jang paling dahulu memberi bantuan biaja bagi diplomat-2
> Indonesia di
> luar negeri. Mesir, Siria, Irak, Saudi-Arabia, Jemen,
> memelopori pengakuan de jure RI bersama Afghanistan dan
> IranTurki
> mendukung RI. Fakta-2 ini merupakan hasil perdjuangan
> diplomat-2
> revolusi kita. Dan simpati terhadap RI jang tetap luas di
> negara-2 Timur
> Tengah merupakan modal perdjuangan kita seterusnja, jang
> harus terus
> dibina untuk perdjuangan jang ditentukan oleh UUD '45 :
> "ikut
> melaksanakan ketertiban dunia jang berdasarkan kemerdekaan,
> perdamaian
> abadi dan keadilan sosial".
>
> "Perumpamaan kaum muslimin yang saling kasih mengasihi
> dan cinta
> mencintai antara satu sama lain ibarat satu tubuh. Jika
> salah satu
> anggota berasa sakit maka seluruh tubuh akan turut berasa
> sakit dan
> tidak dapat tidur." (HR Bukhari)
Read More......

Thursday, January 8, 2009

Izinkan Kami Menata Ulang Peradaban!

Sejarah telah mengubur dalam-dalam puing reruntuhan Sosialisme-Komunisme. Ideologi yang diusung Karl Marx, Lenin, Stalin dan kawan-kawannya itu telah terbukti gagal menyejahterakan manusia bersamaan dengan bubarnya adidaya Uni Soviet yang pecah menjadi serpihan tak bernilai. Dan sepertinya wajar saja jika ide-ide mereka tak lagi diminati sebab memang tak bisa memberi solusi. Kalaupun ada geliat bangkitnya paham kiri ini, maka itu tak lain hanyalah riak kecil saja.

Lantas, dengan sistem apakah dunia menapaki hari-harinya? Francis Fukuyama dalam bukunya The End of History menyatakan bahwa sejarah telah berakhir. Dan demokrasi dengan kapitalisme-nyalah yang menjadi pemenang. Namun, benarkah tesisnya itu? Yang jelas, Jeremy Seabrook menampik hal tersebut. Ia menganggap kapitalisme yang merupakan saudara dekat liberalisme itu sebagai biang kerok kemiskinan global. “Apakah ekonomi melayani umat manusia, ataukah kemanusiaan telah ditindas untuk melayani ekonomi?” demikian tulisnya dalam Kemiskinan Global; Kegagalan Ekonomi Model Neoliberalisme.

Pernyataannya itupun didukung begitu banyak fakta yang mengindikasikan semakin dekatnya kehancuran kapitalisme. Lihat saja begitu jauhnya jurang kesenjangan kaya-miskin. Menurut Hammer (1994: 16), pada saat ini 20% penduduk dunia (The Club of Rich) menguasai 83% kekayaan dunia, mengendalikan 81% perdagangan dunia dan mendapat 81% hasil investasi, sembari menikmati 70% energi, 85% persediaan kayu dunia dan 60% pangan. Perbandingan kekayaan 20% penduduk terkaya dunia dengan 20% penduduk termiskin dunia adalah 60 berbanding 1. Data lain mengemukakan bahwa tren kemiskinan semakin memburuk. Jumlah orang miskin yang hidupnya kurang dari 1 dolar per hari meningkat menjadi 1,214 miliar jiwa (20% penduduk dunia). Selain itu, 1,6 miliar jiwa (25% penduduk dunia) lainnya hidup antara 1-2 dolar sehari.(The United Nations Human Development Report, 1999).

Indonesia pun tak jauh beda. Walaupun mengaku bermazhab ekonomi Pancasila, tetap saja kiblatnya adalah kapitalisme. Konglomerat tak beradab dan pihak asing dilayani dengan istimewa oleh pemerintah. Aset-aset strategis diobral murah. Termasuk yang jelas-jelas menguasai hajat hidup orang banyak-yang notabene harus dikelola negara berdasarkan UUD 1945- diprivatisasi tanpa merasa berdosa. Mungkin sebentar lagi, pemerintah juga akan menjual pulau-pulau di nusantara untuk melunasi utang berbunga ‘lunak’ dari IMF. Data Susenas yang dikumpulkan Badan Pusat Statistik pada Maret 2005 menunjukkan jumlah orang miskin mencapai 39,05 juta orang atau 17,5% penduduk Indonesia. Ya wajar saja, lha wong harga-harga pada membumbung tinggi, upah nggak naik juga, celetuk seorang ibu.

Belum lagi jika kita melihat tingkat pengangguran yang selalu meningkat tajam, kelaparan yang menjadi tradisi rutin dan pendidikan yang selalu diagungkan tapi tak pernah dipedulikan. Masalah buruh belum selesai, lebih sedih lagi menyapa generasi muda yang terkena bias budaya ekstravaganza. Sikap hedonis yang didesain pemahaman liberal membuat mereka menjadi free thinker dan telah menuai hasil. Hasil penelitian LSCK PUSBIH di Yogyakarta memperlihatkan bahwa 97,05% mahasiswi di kota pelajar itu telah melakukan hubungan seks pra-nikah. Parahnya, semua responden mengaku semua itu dilakukan tanpa ada paksaan alias atas dasar suka sama suka. So, have fun aja. Begitu mungkin pikir mereka. Dalam sebuah seminar yang diadakan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur di FISIP Universitas Airlangga, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan ketika itu Dra. Hj. Khofifah Indar Parawansa mengungkapkan angka aborsi saat ini mencapai 2,3 juta dan setiap tahun ada trend meningkat. Tetapi peningkatan itu bukan disebabkan oleh pemerkosaan melainkan karena suka sama suka alias free sex. Bahkan di Surabaya ada 6 dari 10 gadis yang sudah tidak perawan lagi.

Peredaran narkoba pun tak terbendung. Pada tahun 2000 lalu, tercatat ada 4 juta pengguna narkoba di seantero Indonesia. Dari jumlah itu, 70% di antaranya adalah anak usia sekolah, 14-20 tahun. Na’udzubillah.

Islam, Sebuah Solusi

Kalau Anda seorang muslim, maka tak perlu pusing mencari solusi. Sebab, dien ini sudah sempurna dan mengatur segenap aspek hidup. Tak percaya? Simak saja surah Al-Maidah ayat 3, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” Masalahnya, kita belum konsisten melaksanakan syariah. Mayoritas umat Islam hanya mau mengambil Islam setengah-setengah. Yang mahdhah (ritual) saja, tidak yang muamalah (sosial). Mereka mengikuti langkah syaithan dengan tidak menjalankan Islam dengan kaffah (menyeluruh) sebagaimana diinstruksikan Allah Swt dalam QS. Al-Baqarah:208. Padahal Rasulullah Muhammad Saw. telah membuktikan bagaimana ia membangun kegemilangan peradaban dengan tuntunan wahyu (Al-Qur’an). Mendirikan sebuah Imperium besar tak tertandingi yang diteruskan khulafa al rasyidin hingga akhirnya diruntuhkan dengan kepicikan Mustafa Kemal Pasha di masa Daulah Utsmaniyyah pada tahun 1924.

Lihatlah sistem ekonomi non-ribawi yang menentramkan dan memberdayakan. Semuanya untuk kemaslahatan rakyat. Mulai dari konsep zakat, infaq, shadaqah, fidyah, dam, wakaf dan sejenisnya. Sampai-sampai di masa khalifah Umar bin Abdul Aziz, amil-amil zakat berkeliling benua Afrika untuk mencari fakir miskin yang berhak menerima zakat, namun tak ditemukan. Sistem politik Islam juga begitu mengagumkan. Sistem yang jujur tak pernah menipu seperti demokrasi lipstiknya barat. Demokrasi barat tak pernah meridhai kemenangan kelompok Islam meskipun demokratis seperti FIS di Aljazair dan HAMAS di Palestina karena dianggap akan menghancurkan demokrasi itu sendiri, tetapi Islam sesungguhnya tak pernah memusingkan bentuk negara. Yang penting, apakah negara tersebut dapat berperan sebagai instrumen penegak syariah Allah atau tidak. Demikian Anis Matta dalam pandangan Suherman, M.Si (Rekonstruksi Politik Kaum Muslim: Studi Interpretatif atas Pemikiran H.M. Anis Matta).

Bukti lain jayanya Islam di masa lampau adalah berkembang pesatnya ilmu pengetahuan. Pencapaian prestasi gemilang itu tercermin dari lahirnya par ilmuwan semisal Al Biruni (fisika, kedokteran), Jabir Haiyan (kimia), Al-Khawarizmi (matematika), Al Kindi (filsafat), Ibnu Khaldun (politik, sosiologi), Ibnu Sina (kedokteran), Ibnu Rusyd (filsafat) dan masih banyak nama lain lagi. Bahkan bangsa Eropa mengenal kebiasaan mandi dan membuat jamban setelah belajar dari umat Islam yang kala itu persebarannya sudah sampai ke Andalusia.

Ilmuwan barat sendiri mengakui secara jujur kebenaran hal itu. “Sepanjang masa kekhalifahan Islam, para khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya; menyediakan peluang kepada siapapun yang membutuhkan; memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam keluasan wilayah yang belum pernah tercatat lagi fenomena seperti itu setelah mereka; menjadikan pendidikan menyebar luas hingga ilmi, sastra, filsafat dan seni mengalami kejayaan luar biasa yang membuat Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad.” (Will Durrant, Story of Civillization). Sekarang, tinggal kita ubah paradigma berpikir. Kita harus kaffah berIslam. Juga meninggalkan hukum thagut yang menjauhkan umat ini dari rahmat Allah dan menggantinya dengan Islam yang jelas-jelas merupakan rahmat bagi semesta. “Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? Siapakah yang lebih baik hukumya selain Allah bagi orang-orang yang yakin.” (QS. Al-Maidah:50) Al-Ghuraba’, Generasi Perubah

Saat mayoritas anak muda shopping di mall atau mejeng di jalanan, mereka asyik beraktivitas di sudut-sudut masjid. Ketika sudah banyak muda-mudi yang terjerumus ke lembah hitam seks bebas, mereka bahkan mengharamkan pacaran, karena merupakan bentuk lain dari mendekati zina. Di kala kaum hawa zaman kiwari ini berbusana begitu terbuka tanpa batas, mereka menutup rapat-rapat auratnya dengan jilbab rapi hingga seluruh tubuh. Kalau kebanyakan anak lelaki sudah biasa nyabu, maka mereka merokok pun tidak.

Muhammad Fathi menuliskan, “Merekalah generasi yang keislamannya tidak hanya sebatas shalat, shaum dan dzikir. Namun, generasi yang dadanya bergejolak saat kesucian agama dihinakan. Hatinya meleleh, bersedih dengan setiap kelemahan jiwa padahal ia masih bisa bernafas. Generasi yang tidak menyia-nyiakan usianya begitu saja, namun mengubahnya menjadi kekuatan dahsyat untuk sebuah karya.”(The Power of Youth)

Merekalah yang Allah janjikan dalam QS. Al-Maidah:54, “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.” Merekalah generasi baru (jiilun jadid) yang dinubuwatkan Rasulullah, “Islam itu bermula dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing seperti permulaanya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing (ghuraba’). Merekalah orang-orang yang berbuat baik selagi manusia berbuat kerusakan.”(HR. Ahmad)

Merekalah yang akan mengubah dunia dengan tuntunan wahyu, berakidah salim, beribadah shahih, berakhlak kokoh. Dengan tarbiyah (pembinaan) dan tashfiyah (pemurnian) mereka akan memimpin peradaban dan menyelamatkan manusia dari adzab ketika berpaling dari syariah, “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha:124).

Kalian tidak percaya? Silahkan engkau tertawa sepuas hatimu, ku tak akan berpaling karena hinaan itu. (Untuk Para Pengabdi, Virgiawan Listanto)

Read More......