Showing posts with label ENTREPRENEUR. Show all posts
Showing posts with label ENTREPRENEUR. Show all posts

Sunday, January 4, 2009

5 KESALAHAN DALAM BERBISNIS




Bisnis 2009 akan tidak lebih mudah, persaingan semakin ketat. Walau pertumbuhan bisnis tetap ada, saya perkirakan 5-6%, namun pertambahan kue bukannya menambah porsi kue per masing-masing pengusaha, bahkan sebaliknya. Hal ini diakibatkannya munculnya banyak pengusaha baru yang beradu nasib. Persaingan akan dimenangkan oleh pengusaha yang kreatif, customer oriented, menjalankan managemen yang efektif, dan memiliki Sumber Daya Manusia yang solid.Untuk menjadi pengusaha sepeti ini, Anda perlu menghindari 5 kesalahan berbisnis.



KESALAHAN Pertama, MENGABAIKAN CUSTOMER NEED


Pengusaha yang suka banting harga, dapat omzet dadakkan karena dapat harga beli murah dan jual murah, mereka akan dimakan oleh hukum pelanggan itu sendiri. Oleh karena edukasi customer yang sudah meningkat, tawaran fungsi produk/jasa yang sama sudah menjamur, dan perubahan lingkungan pelanggan, mereka semakin bijak untuk memilih perusahaan mana yang baik buat mereka untuk bertransaksi. Tidak ada pilihan, bagi pengusaha saat ini untuk mau mendengar kebutuhan pelanggan Anda. Alihkan fokus Anda yang dulu lebih banyak bagaimana mendatangkan barang, dengan mengamati dan mendengar keinginan dari pelanggan Anda. Berilah benefit yang pas buat mereka.

KESALAHAN kedua, MENGABAIKAN MEMBANGUN SDM YANG SOLID


Old Rules : Business = Product. New Rules : Business = Product + Service. The Best Rule : Business = Product + Service + Human Resource. Bekali pegawai Anda dengan bekerja dengan hati, kreatifitas, pro aktif, antusias, dan kemampuan make a decision. Mereka adalah spoke person bagi perusahaan Anda, bukan Anda, tapi mereka. Zaman batu, agraris, industri, marketing, teknologi informasi sudah berlalu. Sekarang sudah tiba zaman Sumber Daya Manusia. Akhirnya semua akan bisa mengikuti produk/jasa yang kita jual, semua bisa mengikuti harga yang kita pasang, semua bisa menjalankan pemasaran yang kita buat, namun semua belum tentu bisa mengikuti persis dengan kualitas SDM yang kita miliki.


KESALAHAN ketiga, TIDAK MENGGUNAKAN MANAGEMEN BERBASIS KINERJA


Banyak pengusaha menjalankan bisnisnya berorientasi pada untung, bukan pada kinerja. Pengusaha yang berorientasi untung akan fokus pada sales, bagaimana produk/jasanya bisa dijual segera dan sebanyak-banyaknya. Jangan heran mereka akan membanting harga dan tidak peduli service after sales, hit and run jurus pamungkas mereka. Pengusaha yang berorientasi untung akan fokus pada pertumbuhan sales, bukan kinerja yang optimal. Asal penjualan sudah meningkat, mereka akan puas. Sebut saja tahun lalu hasil penjualan 12M, tahun ini 15M, mereka sudah puas. Padahal jika mau dianalisa, titik optimal yang bisa dicapai bisa jauh lebih dari 15M, jika perusahaan mau membangun managemen berbasis kinerja, seperti : peningkatan fungsi controlling, budgeting, feedback dan upgrading.


KESALAHAN keempat, MENGABAIKAN DIFERENSIASI


Perusahaan yang tidak melakukan diferensiasi sudah pasti mati, paling tidak setengah mati buat perusahaan yang dulunya berjaya. Banyak produk yang dulunya terkenal namun sekarang tinggal kenangan, sebut saja : Bodrex, Sugus, dan masih banyak lainnya. Bagaimana membangun diferensiasi ? Anda bisa mengevaluasi dan membangun perusahaan Anda dengan competitive Advantage (product, pricing, promotion, positioning, publicity, packaging, pass-along, permission, people dan peculiar) yang banyak. Kedua Anda bisa memaksimalkannya dengan membangun customer satisfaction driven (harga, kualitas pelayanan, kualitas produk/jasa, kemudahan mendapatkan,faktor emosional)di perusahaan Anda.


KESALAHAN kelima, Local Mindset


Bagaimana mungkin bangsa yang memiliki SDA dan SDM yang banyak tidak bisa menikmati kekayaan itu, malah negara lain yang bisa memanfaatkannya, sebut saja : Freeport. Semua bermula dari pengusaha yang berpikir lokal. Mereka hanya membangun kerajaan bisnis kota, provinsi paling top nasional. Sehingga tidak mengherankan pengusaha ini tidak memikirkan branding dan network. Berbeda dengan para entrepreneur US. Mereka sangat bervisi global. Anda akan menemui dengan mudah dimana saja Coca Cola, Mc Donald, Sturback, produk Disney, Shell, Microsoft, dan lain-lain. Pengusaha yang bermental dan berpikir global akan lebih mudah sukses dari pada yang lokal.


Read More......

ENTREPRENEUR BERMAIN DENGAN RISIKO



Salah satu hal yang paling sulit ketika kita memutuskan untuk jadi entrepreneur adalah keluar dari zona nyaman untuk kemudian masuk dalam zona ketidakpastian (penuh risiko). Zona nyaman yang paling berat untuk ditinggalkan adalah mental orang gajian yang serba aman. Artinya, ketika masih jadi pekerja kita tak perlu terlalu memikirkan masa depan perusahaan. Kalau bangkrut maka kita toh tetap dapat uang pesangon. Kalau kineja perusahaan biasa–biasa saja atau malah jeblok maka setiap akhir bulan kita tetap akan terima gaji. Risiko terbesar ada di tangan pemilik usaha, bukan pada karyawan. Jika perusahaan bangkrut, kita bisa pindah kerja ke perusahaan lain.

Berbeda dengan ketika kita memutuskan untuk menjadi entrepreneur. Semuanya menjadi serba tidak pasti. Bisa untung, bisa pula buntung. Maka pada bagian sebelumnya, saya telah menegaskan, salah satu ciri entrepreneur adalah berani mengambil risiko. Banyak perusahaan yang baru beberapa bulan berdiri akhirnya bangkrut. Umumnya ini terjadi pada mereka yang latah atau ikut–ikutan.


Menurut entrepreneur terkenal dari Amerika, Victor Kiam, untuk maju seorang entrepreneur haru berani bermain dengan risiko, bahkan mengubah risiko menjadi peluang. Lantas, risiko macam mana yang harus diambil oleh para entrepreneur? Jawabannya cuma satu: risiko yang telah diperhitungkan dengan matang (calculated risk). Tidak main asal seruduk kayak banteng. Melainkan melakukan kalkulasi cermat mengenai prospek usaha yang akan ditekuni. Misalnya, adakah permintaan pasar, bagaimana dengan tingkat persaingan selama ini, bagaimana supply bahan baku, dsb.

Jika memang risiko yang diprediksi itu jadi kenyataan maka sebagai entrepreneur unggulan, kita tidak boleh panik. Kepanikan kita akan membawa musibah besar. Ibarat penyakit menular, kepanikan kita akan segera menular kepada semua orang dalam perusahaan dan pada akhirnya mematikan perusahaan kita. Kita harus tabah dan tegar. Analisa sebabnya dan segeralah cari jalan keluar.

keunggulan seorang entrepreneur bukan ditentukan oleh seberapa banyak keuntungan yang bisa diraihnya melainkan seberapa banyak ia dapat bangkit dari kegagalan. Setiap kegagalan menjadi guru baginya. Ia tetap optimis melangkah ke depan. Kegagalan adalah bagian dari masa lalu dan amat tidak layak untuk terulang di masa mendatang.

Read More......

LANGKAH MENJADI ENTREPRENEUR ADALAH SUATU PILIHAN


Menjadi seorang entrepreneur sejati adala pilihan sesorang, tidak perlu IP tinggi tapi harus lebih tinggi dan kreatif, banyak teman, kaya, cerdas emosi apalagi harus cerdas spiritual, punya kenangan ijazah. “kapan itu semua dimualai yaitu Saat yang tepat justru saat kita tidak punya apa-apa. Pakai ilmu street smart yaitu mulai dari sekarang apapun keadaan anda”. Menurutnya, kemampuan otak kanan yang kreatif dan inovatif saja sudah memadai. Banyak orang ragu berbisnis cuma gara-gara terlalu pintar. Sebaliknya, orang yang oleh guru-guru formal dianggap bodoh karena nilainya jelek, justru melejit jadi wirausahawan sukses, belum tentu karena ALLAH Itu Maha Adil siapa yang minta mereka itulah yang dapat dulu. “Masalahnya jika orang terlalu tahu risikonya, terlalu banyak berhitung, dia malah tidak akan berani buka usaha,” ya karena lingkungan mereka tidak mendukung atau tidak kepepet.

Wacana wirausaha disekitar kita?


Mungkin begini. Salahnya pendidikan kita itu, kebanyakan orang lulus sarjana baru cari kerja. Jadi pengusaha itu mungkin malah orang-orang yang kepepet. Yang tidak diterima di mana-mana, baru dia sadar dan bikin usaha sendiri. Mestinya, kesadaran seperti ini bisa untuk orang-orang yang tidak kepepet. Alasannya, kalau mau usaha harus ada modal, punya ketrampilan. Padahal tidak harus begitu. Saat yang tepat itu justru saat kita tidak punya apa-apa. Ibaratnya kalau kita punya ijazah pun, tidak usah dipikirin. Saya dulu tak tergantung dengan selembar kertas itu. Sekarang mau dijaminkan di bank juga tidak bisa. Hanya buat senang-senang saja kalau sudah sarjana.


Mengapa pendidikan tidak mengajarkan untuk jualan?


Apabila dilihat pendidikan kita itu dari otak kiri saja. Padahal kalau kita garap yang kanan, porsinya banyak, maka otomatis otak kirinya naik. Tapi kalau kita banyakin kiri, kanan ndak ikut naik. Kanan itu adalah praktek. Saya bilang street smart. Cerdas di lapangan, di jalanan. Orang yang akademik, sekolahnya pintar, IP atau nilai tinggi, dia tidak berani menentang teori. Jadi robotlah. Kalau di situ jadi topeng monyet. Dia tidak berani membuat kreasi sendiri. Padahal hidup dia itu bukan di masa lalu. Hidup dia itu kan di masa datang, dan itu serba berubah cepat. Tidak ada yang sama dengan teori yang dia pelajari. Teori itu kan hasil temuan. Kenapa kita tidak bisa menemukan sendiri?


Kita harus berfikir cerdas dan cepat?


Cerdas di jalanan. Ada academic smart atau school smart. Tapi street smart itu cerdas dengan praktek. Jadi begini, kalau kita punya pengetahuan dengan benar, pengetahuan itu kan akademik. Kita tidak strong, gugur! Kita tidak akan bisa. Kita tidak akan bisa benar. Waktu SD itu ada bacaan-bacaan begini; “Ibu pergi ke pasar membeli sayur.” Kok tidak yang menjual sayur saja? Kok, kata-katanya selalu membeli, bukan menjual? Teryata setelah saya urut-urut, yang nulis itu guru. Coba kalau isinya diubah menjadi menjual, itu akan lain.


ide pemikiran Kiyosaki “If you want to be rich and happy, don’t go to school” apa benar ya? tidak semua benar ingat!


Kalau saya if you want to be rich and happy, Kalau di sekolah tidak akan happy dan kaya. Pendidikan kita tidak bikin happy, malah bikin stres anak. Porsi mainnya kurang. Sejak Taman Kanak-kanak sudah dipaksa main otak kiri. Mungkin itu karena dari menterinya sampai orang-orang tuanya itu otak kiri semua, kan? Dikatakan figur yang bagus itu yang profesor, yang doktor. Padahal kalau kita pilah, yang pintar sekolah memang jadi dosen, jadi dokter. Yang sedang-sedang saja jadi manajer. Tapi yang kurang pandai sekolahnya malah jadi pengusaha. Penelitian di Harvard begitu. Mungkin dia berani, kreatif, bisa menemukan apa yang tidak ditemukan oleh anak-anak pintar. Nah, pendidikan kita itu semua mau dijadikan ilmuwan. Seolah ngejar otak kiri saja, ngejar school smart saja.


Salah satu entrepreneur harus berani ambil risiko…


Itulah, ambil risiko itu berarti harus gelap. Maksudnya jangan terlalu banyak tahu. Setelah jalan, kita pakai ilmu street smart tadi. Street smart itu yang melahirkan kecerdasan entrepreneur yang dibutuhkan untuk pemula usaha. Isi kecerdasan entrepreneur itu ya kecerdasan emosional, spiritual, dan basisnya di otak kanan.


Inti dari kehidupan semua orang menuju sukses


Kembangkan sisi spiritual melalui dzikir atau meditasi. Bisnis itu, kalau bisa ya melibatkan yang “di atas”. Tidak bisa berjalan dengan diri kita sendiri. Maka saya kembangkan kecerdasan spiritual. Kalau menggunakan intuisi saja, hanya bisa menunjukkan sesuatu tujuan itu seperti apa….Tapi kalau dzikir, melibatkan Tuhan, kuncinya justru membuat tujuan itu terjadi. Misalnya diramal orang kita tidak hoki. Dengan dzikir itu bisa jadi hoki. Yang tidak baik jadi baik. Arah negatif bisa jadi positif.


Read More......